Feeds:
Pos
Komentar

Tari Piriang

Kalau Bule Inget kampung

Bule aja inget kampuang !!!!!

Kebersamaan itu?

Entah kenapa akhir-akhir ini pikiran tidak bisa lepas dari keindahan dan kedamaian kampung halaman? Mungkin karena kemarin baru dari kampung, setelah sekian lama tidak pulang. Ternyata kampung kita ini sangat damai dan indah ini, jauh dari yang namanya kerusuhan, jauh dari yang namanya polusi dan ketenangan menggambarkan suatu kampung yang damai. Kampung yang sangat asri, terletak di sebelah timur kalau dalam peta kota Payakumbuh.
Kesunyian yang menjanjikan hidup tenang. Dan ketenangan yang menjanjikan hidup jauh dari permasalahan. Daerah yang menjanjikan kita untuk tidak akan pernah bertemu dengan kemacetan jalan, menjauhkan kita dari keruwetan persoalan hidup yang semakin keras.
Kampung yang mulai menggeser peradabannya kearah yang maju, mulai berpacu dengan perkembangan zaman, bergerak mengalir seiring perubahan zaman, kampung yang mulai menggali potensi diri yang sudah mulai melangkah kearah pembangunan industri. Dengan adanya pembangunan-pembangunan yang sedang berjalan, untuk menggerakkan percepatan ekonomi dengan potensi-potensi di sektor ril yang kampung kita punyai.
Tapi untuk sebuah perubahan pasti membutuhkan persiapan, karena tanpa persiapan yang matang semua perubahan itu cuma akan menjadi petaka. Kampung kita aka menjadi kehilangan rohnya yaitu kebersamaan, saling bantu sesama saudara “ringan sama di jinjing berat sama di pikul”.
Namun kegalauan itu muncul juga di hati saya, kedamaian dan ketenangan kampung kita sedikit sudah mulai bergeser dengan mulai meredupnya kebersamaan di antara kita warga Payobasung. Kita tidak mendengar lagi kebersamaan kita untuk bergotong royong, seperti dulu yang pernah kita lakukan, membersihkan “bondoH” adalah sebuah contoh gotong royong yang selalu kita lakukan.
”Oiiii uRang kampuang…!
Teng…teng…teng…
“Jang lupo bisuek awak gotong royong mambarosien bondoH..!”
Teng…teng…teng…
“Mambaok pangkuoooH… jooo sabik…!!
Teng…teng…teng…
“Induek-induek jan lupo mambaok limpiang..”
Teng…teng…teng…”
Tuek Umin jo Mak Nawan, adalah orang-orang luar biasa yang menyerukan kebersamaan bagi kampuang kita. Kita bangga kepada mereka.
Teriakan yang menandakan semangat kebersamaaan itu mulai hilang di kampung kita. Padahal itu suara yang menyatakan kalau kita adalah orang yang perduli sesama saudara. Kemana suara-suara itu sekarang perginya? Apakah suara kebersamaan kita itu harus kita bayarkan untuk globalisasi pembangunan yang sudah masuk kekampung kita? Kemajuan adalah sesuatu yang harus kita raih, tapi kehilangan karakter sebagai sebuah kampung yang salalu menjunjung tinggi kebersamaan jangan biarkan ditelan oleh kemajuan peradaban yang kita hadapi.
Bagaimanapun pembangunan sudah mulai masuk kekampung kita, perencanaan pembangunan untuk kemajuan ekonomi sudah jelas-jelas di depan mata kita, seperti rencana pembangunan di Pangumbuek. Dan itu memang sesuatu yang harus kita ambil. Tapi sekali lagi roh kampung kita yang sudah mulai “redup” itu harus dinyalakan kembali, karena akan semakin gelap kalau kita biarkan diam di telan roda pembangunan.
“Sia tuh…?”
“Ontahlah nda tau den deh, inyo uRang sakubang!”
”Bolek ndak nyobuk-nyobuk bagei nyo ka awak deh”
Satu contoh kata-kata yang sudah menjadi biasa di kampung kita (kita orang Payobasung!!!). Lontaran egoisme dari rasa bersaudara yang cukup wajar kita dengar di kampung kita. Padahal kalau rasa bersaudara itu masih kuat, buat apa kita menunggu dikecek-an?.
Generasi mulai berubah dan apakah ini yang harus kita kenalkan ke generasi-generasi selanjutnya? Bukankah lebih baik kalau kita mengenalkan cinta sesama dunsanak? Rasa saling membantu dan tulus untuk berbuat sesuatu terhadap kampung kita?
Sudah banyak kampung yang kehilangan rohnya ditelan oleh kemajuan peradaban dan sepertinya saya tidak rela kalau Payobasung juga nantinya akan kehilangan rohnya. “Ah… yo ndak omueh den deh”
Mulai sekarang kita harus mempersiap kan diri, harus mendirikan benteng untuk menjaga roh kampung kita supaya tidak hilang ditelan peradaban. Mari kita bangun lagi rasa kebersamaan, ciptakan lagi rasa persaudaraan. PAYOBASUNG ini adalah kampung yang kuat, semangat kebersamaannya erat. Terbukti di waktu acara lebaran kemaren dimana terlihat seperti di acara takbiran, rombongan orang Payobasung adalah yang TERBESAR. Dan itu adalah jati diri Payobasung yang sebenarnya.
Rasa persaudaraan pun terlihat dari permainan bola, dimana semua saling menikmati bermain dengan saudaranya. Bermain dan bergembira, kadang tak jelas lagi bedanya di lapangan bola dengan arena Saluang. “Ha a.. awak Rang Gurau da…!!”
Dan payobasung adalah kampung yang kreatif dengan ada nya kesenian-kesenian “anak nagari” yang di pertunjukan di malam hari. Jaga rasa ini dan selalu simpan di hati.
PAYOBASUNG menerima setiap perubahan untuk kemajuan, tapi Payobasung adalah kampung yang kuat berkarakter dan mempunyai roh yang jelas untuk disebut sebagai sebuah kampung!!!!!! MAJULAH PAYOBASUNG !!!!!!

Powered by ScribeFire.

Rahasia Kaya dan Uang

Mau tahu? Nonton deh!!

Miliki juga akun di Google Adsense… seperti ini!

Pulang Basamo dan Foto-Foto

Maaf, karena sekemabali dari kampuang, baru ini yang dapat dilaporkan untuk dunsanak dimana saja berada. Laporan pandangan kamera. Bukan tanpa alasan, kadang-kadang kami berpikir satu gambar dapat mewakilik sejuta kata-kata.
Nikmati Foto-Foto di Kampuang dengan mengilik daftar LINK dibawah ini. Selamat memandang dan selamat terpesona.

Selain menikmati hasil jepretan kamera, tentu anda juga dapat memberikan komentar pada setiap foto (kalau mau)
Enjoy its!!!

Powered by ScribeFire.

PUlaNg Ka Payakumbuh

Kehabisan tiket untuk ke Payakumbuh?

Keluarga besar rang payobasuang Payakumbuh hari Raya Idul Fitri 2007 ini menyewa satu Bus pariwisata untuk pulang kampung ke Payakumbuh.Karena banyaknya urang Payobasuang yg naek mobil pribadi dan pesawat,maka sampai hari ini masih ada bangku Bus yang kosong.Bagi dunsanak serantau sepayakumbuh yang belum mendapatkan tiket untuk pulang ke Payakumbuh lebaran ini bisa membeli tiket/banku yang masih kosong.Tempat sangat terbatas,bagi yang cepat dia yang dapat.kalau memang berminat silahkan menghubungi pengurus IKP Jaya.Berangkatnya tgl 9 okt 2007 sampai diJakarta kembali tgl 18 Okt 2007.Harga Per bangku nya sangat murah sekali hanya Rp.550.000 PP (Pulang Pergi) dengan Bus AC dan temp[at duduk 2-2.Kita berkumpul diparkir Timur Senayan setelah sahur,jadi jalanan belum macet dan di Merak tidak Antri.

Bagi yang berminat silahkan menghubungi:

Boby kurnia 021-99374758 ( Esia ) / 0812-8665861 atau

Denny Piliang 021-70764709 ( Flexy ) / 0817-4816650

email dennypiliang@yahoo.com

Thanks

IKP Jaya

Denny Hendrawan piliang

Batam juga Rindu

“Tobik tagih kami mambaco Koran Baran di Batam, taRagak bona kami Pulang Basamo, apa daya kondisi belum memungkinkan”. Demikian kata sebuah pesan pendek (sms) yang diterima redaksi Koran Baran. “Tolong tulis acaranyi di Koran Baran, mungkin dari situ kami dapat ikut merasakan kebahagiaan Pulang Basamo”, tambah sebuah sms lagi.

Dan berikutnya, sebuah komentar pada blog ini mencurahkan, “Kami taRagak pulo Pulang Basamo samo… tapi saluong ajo lah nan ka manyampaian… insyaalLah tahun yang akan datang ka Pulang Basamo pulo…”

Siapa yang tidak rindu dengan kampuang halaman? Namun memang adakalanya kerinduan itu ditahan dulu, agar semakin rindu – agar semakin sayang, dan pada hari-hari berikutnya memacu diri kita untuk lebih giat lagi bekerja, bausaho jo bakureh…., dan jangan lupa menyisihkan untuk Pulang Basamo. (jang diabin ajo pancaRian deh…)

Sebenarnya, kehidupan perantau itu sama saja, saRoman roda, sakali di ateh – sakali di bawah. Namun, yang patut dan harus segera ditiru oleh perantau daerah lain kepada Perantau Jakarta, adalah MEMUPUK KEBERSAMAAN.

MARI KITA LEBIH KOMPAK LAGI.

[Narasumber: Yanti, Andar & Abrar]