Entah kenapa akhir-akhir ini pikiran tidak bisa lepas dari keindahan dan kedamaian kampung halaman? Mungkin karena kemarin baru dari kampung, setelah sekian lama tidak pulang. Ternyata kampung kita ini sangat damai dan indah ini, jauh dari yang namanya kerusuhan, jauh dari yang namanya polusi dan ketenangan menggambarkan suatu kampung yang damai. Kampung yang sangat asri, terletak di sebelah timur kalau dalam peta kota Payakumbuh.
Kesunyian yang menjanjikan hidup tenang. Dan ketenangan yang menjanjikan hidup jauh dari permasalahan. Daerah yang menjanjikan kita untuk tidak akan pernah bertemu dengan kemacetan jalan, menjauhkan kita dari keruwetan persoalan hidup yang semakin keras.
Kampung yang mulai menggeser peradabannya kearah yang maju, mulai berpacu dengan perkembangan zaman, bergerak mengalir seiring perubahan zaman, kampung yang mulai menggali potensi diri yang sudah mulai melangkah kearah pembangunan industri. Dengan adanya pembangunan-pembangunan yang sedang berjalan, untuk menggerakkan percepatan ekonomi dengan potensi-potensi di sektor ril yang kampung kita punyai.
Tapi untuk sebuah perubahan pasti membutuhkan persiapan, karena tanpa persiapan yang matang semua perubahan itu cuma akan menjadi petaka. Kampung kita aka menjadi kehilangan rohnya yaitu kebersamaan, saling bantu sesama saudara “ringan sama di jinjing berat sama di pikul”.
Namun kegalauan itu muncul juga di hati saya, kedamaian dan ketenangan kampung kita sedikit sudah mulai bergeser dengan mulai meredupnya kebersamaan di antara kita warga Payobasung. Kita tidak mendengar lagi kebersamaan kita untuk bergotong royong, seperti dulu yang pernah kita lakukan, membersihkan “bondoH” adalah sebuah contoh gotong royong yang selalu kita lakukan.
”Oiiii uRang kampuang…!
Teng…teng…teng…
“Jang lupo bisuek awak gotong royong mambarosien bondoH..!”
Teng…teng…teng…
“Mambaok pangkuoooH… jooo sabik…!!
Teng…teng…teng…
“Induek-induek jan lupo mambaok limpiang..”
Teng…teng…teng…”
Tuek Umin jo Mak Nawan, adalah orang-orang luar biasa yang menyerukan kebersamaan bagi kampuang kita. Kita bangga kepada mereka.
Teriakan yang menandakan semangat kebersamaaan itu mulai hilang di kampung kita. Padahal itu suara yang menyatakan kalau kita adalah orang yang perduli sesama saudara. Kemana suara-suara itu sekarang perginya? Apakah suara kebersamaan kita itu harus kita bayarkan untuk globalisasi pembangunan yang sudah masuk kekampung kita? Kemajuan adalah sesuatu yang harus kita raih, tapi kehilangan karakter sebagai sebuah kampung yang salalu menjunjung tinggi kebersamaan jangan biarkan ditelan oleh kemajuan peradaban yang kita hadapi.
Bagaimanapun pembangunan sudah mulai masuk kekampung kita, perencanaan pembangunan untuk kemajuan ekonomi sudah jelas-jelas di depan mata kita, seperti rencana pembangunan di Pangumbuek. Dan itu memang sesuatu yang harus kita ambil. Tapi sekali lagi roh kampung kita yang sudah mulai “redup” itu harus dinyalakan kembali, karena akan semakin gelap kalau kita biarkan diam di telan roda pembangunan.
“Sia tuh…?”
“Ontahlah nda tau den deh, inyo uRang sakubang!”
”Bolek ndak nyobuk-nyobuk bagei nyo ka awak deh”
Satu contoh kata-kata yang sudah menjadi biasa di kampung kita (kita orang Payobasung!!!). Lontaran egoisme dari rasa bersaudara yang cukup wajar kita dengar di kampung kita. Padahal kalau rasa bersaudara itu masih kuat, buat apa kita menunggu dikecek-an?.
Generasi mulai berubah dan apakah ini yang harus kita kenalkan ke generasi-generasi selanjutnya? Bukankah lebih baik kalau kita mengenalkan cinta sesama dunsanak? Rasa saling membantu dan tulus untuk berbuat sesuatu terhadap kampung kita?
Sudah banyak kampung yang kehilangan rohnya ditelan oleh kemajuan peradaban dan sepertinya saya tidak rela kalau Payobasung juga nantinya akan kehilangan rohnya. “Ah… yo ndak omueh den deh”
Mulai sekarang kita harus mempersiap kan diri, harus mendirikan benteng untuk menjaga roh kampung kita supaya tidak hilang ditelan peradaban. Mari kita bangun lagi rasa kebersamaan, ciptakan lagi rasa persaudaraan. PAYOBASUNG ini adalah kampung yang kuat, semangat kebersamaannya erat. Terbukti di waktu acara lebaran kemaren dimana terlihat seperti di acara takbiran, rombongan orang Payobasung adalah yang TERBESAR. Dan itu adalah jati diri Payobasung yang sebenarnya.
Rasa persaudaraan pun terlihat dari permainan bola, dimana semua saling menikmati bermain dengan saudaranya. Bermain dan bergembira, kadang tak jelas lagi bedanya di lapangan bola dengan arena Saluang. “Ha a.. awak Rang Gurau da…!!”
Dan payobasung adalah kampung yang kreatif dengan ada nya kesenian-kesenian “anak nagari” yang di pertunjukan di malam hari. Jaga rasa ini dan selalu simpan di hati.
PAYOBASUNG menerima setiap perubahan untuk kemajuan, tapi Payobasung adalah kampung yang kuat berkarakter dan mempunyai roh yang jelas untuk disebut sebagai sebuah kampung!!!!!! MAJULAH PAYOBASUNG !!!!!!
Powered by ScribeFire.






boleh saja ada perubahan demi kemajuan kampung atau desa kita yang penting tidak merusak rasa kegotong royongan yang selalu dilakukan oleh penduduk desa