Ini cerita jalan-jalan Donna dan Mama ke Vietnam dan Kamboja pada tahun baru Cina (Jan-Feb) 2006. Sebagaimana yang sudah-sudah, jalan-jalan kita tidak diorganisir oleh tour agency manapun, hanya berbekal duit and my Southeast Asia Lonely Planet guide book.
It’s the most unforgettable journey in our life.
Kita berangkat dengan Vietnam Airlines dari Beijing Capital International Airport (29 Jan), pada saat suhu di Beijing -6 derajat Celcius. Brrrrrrrr!!! Berhubung musim libur Tahun Baru Imlek, airport penuh, pesawat sempat delay 1 jam, akhirnya kita sampai di Hanoi pukul 9 malam. Udara di Hanoi sejuk. Dari Hanoi Airport kita naik taksi ke daerah Old Quarter (daerah tempat di mana turis-turis asing ngumpul) dimana kita pesan kamar hotel. Malamnya kita hanya istirahat di hotel.
HANOI
Kita putar-putar di Hanoi selama 4 hari, dari nyasar sampai nemu Kedutaan Besar Indonesia di Hanoi yang gerbangnya pakai Rumah Gonjong Minangkabau (hebat kan orang Padang!!!). Dari naik cyclo (becaknya Vietnam) sampai naik ojek boncengan bertiga sama abangnya (maksa naik bertiga, karena kalo pisah-pisah takut dibawa kaburrrrrr!!!).
Hanoi, kota yang etnik, tradisional dan orangnya ramah-ramah (tapi masih kalah sama orang Indonesia lah). Kota dan orang-orangnya jauh dari “jamahan” westernisasi, memang ada beberapa “imbas” dari hasil kolonialisme Perancis terlihat. Gak ada McDonald tapi banyak French Bakery, Harley Davidson gak boleh masuk, tapi banyak vespa (nah loh..itu hubungannya ama Perancis apa yah??). Pokoknya Vietnam Utara (Hanoi dan sekitarnya) beda sekali dengan Vietnam Selatan (Saigon/Ho Chi Minh City dan sekitarnya) yang sudah agak kebarat-baratan (huu…). Tapi untuk ibu-ibu yang sukanya shopping…setelah Beijing, Hanoi tempatnya (kecuali kalo ibu-ibunya kelasnya Champ Ellysees, itu sih saya nyerah). Pokoknya Hanoi sorga belanja. Gak percaya?? Datang sendiri. 4 hari di Hanoi cukup membuat koper kita penuh.
Di Hanoi jangan lupa lewatkan pergi ke Ho Chi Minh Mausoleum. Sama seperti Mao Ze Dong Mausoleum di Beijing, disana ada mumi Ho Chi Minh yang diawetkan (alias tidak dikubur) yang letaknya berdekatan dengan Ho Chi Minh Stilt House (alias rumah atau istana Ho Chi Minh sewaktu dia masih hidup yang sekarang dijadikan museum). Selidik punya selidik, ternyata ada 3 pembesar dunia yang tidak dikubur setelah mereka meninggal, tapi dibuat mausoleum (alias dibikin mumi) adalah Ho Chi Minh, Mao Ze Dong dan……yak benar sekali saudara-saudara……Lenin. Dialah moyangnya. Suasana di dalam Mausoleum bikin bulu kuduk merinding, selain dingin juga agak remang-remang, jadi terkesan angker.
Selain itu juga jangan lewatkan Ha Long Bay. Yang jaraknya sekitar 2 jam dari Hanoi. Kita ikut rombongan dari hotel dengan sewa bus dan boat di sana. Sama seperti Xian, Ha Long Bay juga termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk melukiskan pemandangan di Ha Long Bay. Pemandangan disana benar-benar menakjubkan. Banyak gunung-gunung batu di tengah laut dan pada gunung batu yang terbesar, terdapat goa di dalamnya. Bayangkan ditengah laut (bukan sungai, bukan juga danau, tapi LAUT) ada gunung-gunung batu dan di salah satu gunung batu itu ada goa dan kita bisa masuk dan melihat ke dalamnya.
Sayangnya selama 4 hari kita ngubek-ngubek Hanoi, kita tidak menemukan mesjid disana. Mungkin karena Vietnam Utara sangat kental paham komunisnya. Tapi Cina mungkin lebih kental dan masih dapat banyak mesjid ditemukan di Cina. Bahkan mesjid tertua di Cina (Mesjid Niu Jie) umur lebih dari seribu tahun.
SIEM REAP – ANGKOR
Dari Hanoi kita ke Siem Reap sekali lagi dengan Vietnam Airlines. Tiba di Siem Reap persis sebelum matahari terbenam (puanasssssss…..), di jemput sama Tuktuk – becaknya Kamboja dan Thailand – (hebat gak tuh…Tuktuk bisa masuk airport). Kita bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dengan angin sepoi-sepoi dari tuktuk kita (yang mengantar seluruh perjalanan kita di Siem Reap).
Malamnya setelah istirahat sebentar di hotel, kita sempatkan untuk jalan-jalan di luar dan cari makan malam. Di daerah hotel kita, ada satu jalan yang isinya restoran-restoran yang penuh turis-turis asing (kaya Jl. Jaksa di Jakarta kali yeeee…) di salah satu resto di sana kita nemuin makanan Kamboja yang enak banget, namanya Amok (bukan Amoxilin loh!!) itu semacam kari ikan, rasanya mirip banget sama gulai ikan, sayangnya mereka gak punya kepala ikannya, kalo punya kan klop banget deh sama “Gulai Kapalo Ikan” (ondeh lomaknyo!!). Walhasil selama di Kamboja (Siem Reap dan Phnom Penh), kita selalu makan Amok.
Setelah janjian sama abang tuktuk-nya (yang kita carter untuk mengantarkan kita jalan-jalan selama di Siem Reap) untuk mengantarkan kita melihat pemandangan matahari terbit di Angkor Wat. Kita pergi pagi-pagi buta ke Angkor. Ternyata sampai di sana, orang sudah banyak. Luar biasa!!!
Angkor Wat adalah pusat dari kompleks candi-candi di Kerajaan Angkor yang rajanya Suryavarman (sama gak yah sama raja Suryawarman yang kita pelajari di pelajaran sejarah di SD dulu?) kerajaannya sangat besar, sebelum terpecah-pecah, Thailand (dan mungkin saja Indonesia?) termasuk dalam wilayah Kerajaan Angkor, dah konon, tradisi gajah-gajah di Thailand dan tarian-tarian Thailand berasal dari Kamboja, yakni dari Kerajaan Angkor. Belum ada satupun candi di Angkor yang di pugar dan di perbaharui. Semua terlihat tua, suram dan angker. Tapi mungkin disitu menarik dan indahnya. Sampai-sampai kita berpikir, Angkor Wat adalah tempat yang akan kita kunjungi lagi suatu hari nanti.
PHNOM PENH
Setelah 3 hari di Siem Reap, kita pergi ke Phnom Penh yang tekenal dengan Istana Raja Sihanouk dan Sungai Mekongnya. Kebetulan sekali kita dapat hotel yang persis menghadap ke Sungai Mekong. Sungai terbesar di dataran Indocina yang menjadi sumber kehidupan 3 negara di Indocina (Kamboja, Burma dan Laos).
Di Phnom Penh kita mengunjungi Museum of Cambodia, Istana Raja Sihanouk yang megah, candi-candi, S-21 Prison (tempat orang-orang Khmer Merah memenjarakan dan menyiksa tawanan-tawanannya) dan The Killing Fields (tempat orang-orang Khmer Merah menyiksa dan membunuh tawanan-tawanannya). Karena Kamboja terkenal dengan kerajinan batu dan peraknya, tentu saja kita juga menyempatkan untuk pergi ke Psar Russei (Pasar Rusia), Psar Cha (Pasar Cha), Central Market dan “psar-psar” lainnya.
Di Phnom Penh kita juga menyempat diri untuk mengunjungi satu-satunya (paling tidak itu yang kita tahu) mesjid disana. Boeng Kak Mosque. Letaknya sangat tidak strategis, jauh dan terpencil dari mana-mana. Lapangan besar di area mesjid dijadikan anak-anak kecil main bola. Pada saat kita sampai disana mesjid tutup, karena bukan waktu shalat jadi kita tidak bisa masuk ke dalam mesjid.
Dari semua tempat yang kita kunjungi di Phnom Penh, yang paling membekas di hati adalah S-21 Prison dan The Killing Fields. S-21 Prison (dulunya bekas sekolahan) adalah hanya salah satu penjara yang digunakan oleh komplotan Khmer Merah untuk menahan dan menyiksa tawanan-tawanan mereka (yang mereka anggap tidak mau bekerjasama) sebelum akhirnya dibawa ke The Killing Fields.
The Killing Fields. Mendengar namanya saja kita sudah merinding. Jalan menuju The Killing Fields sangat menyeramkan (untung kita kesana siang-siang bolong), berdebu dan jarang terlihat rumah di kanan-kiri. Ada tugu di pintu masuk The Killing Fields, tapi tugu itu berisi tengkorak-tengkorak manusia (dari anak-anak sampai orang dewasa) dan sobekan-sobekan baju bekas korban. The Killing Fields berupa sebuah lapangan besar yang ada beberapa bangunan rumah di beberapa sisinya yang dipergunakan untuk menyiksa korban. Sedangkan di tengah-tengah lapangan ada pohon besar yang konon dulunya digantungi pengeras suara yang disambungkan ke rumah-rumah siksa, agar suara orang-orang yang disiksa terdengar dari luar oleh orang-orang yang “menunggu gilirannya”. KEJAM!!! Itulah satu kata yang bisa mewakili semuanya pada saat anda mengunjungi The Killing Fields dan S-21 Prison.
HOI AN
Setelah sekitar 6 hari di Kamboja kita kembali lagi ke Vietnam, sebelum pergi ke Ho Chi Minh City (dimana kita selanjutnya akan meneruskan perjalanan kembali ke Beijing) kita berhenti di Hoi An.
Hoi An yang terkenal oleh “Hoi An Ancient City” atau Hoi An Kota Tua. Memang pantas disebut kota tua, karena seluruh struktur bangunan di Hoi An tua dan tidak ada satupun yang di modernisasi dan seakan-akan mengingatkan kita akan film-film Cina yang bersetting di awal abad 19. Atap rumah-rumah dengan bentuk kelenteng yang sebagian genteng-gentengnya ditumbuhi rumput atau lumut karena sudah saking tuanya. Tapi justru inilah yang menjadi daya tarik Hoi An Ancient City, banyak produser-produser film sengaja datang ke Hoi An untuk syuting film-film mereka, malah pada saat kita disana, kebetulan pas ada syuting film di salah satu jalan di Hoi An. Berbeda dengan Hanoi yang hiruk pikuk sebagai ibukota negara, Hoi An adalah kebalikannya. Sangat tenang dan tenteram, tidak heran para turis yang datang akan berlama-lama tinggal di Hoi An.
Selain terkenal dengan kota tuanya, Hoi An juga terkenal dengan tailor dan segala macam kerajinan tangannya. Di setiap sudut jalan anda akan dengan mudah menemukan tailor yang bisa menjahit segala macam pakaian hanya dengan waktu 1-2 hari dengan harga yang murah.
Kerajinan tangan lainnya adalah, lukisan-lukisan khas Vietnam, kerajinan-kerajinan kayu juga sandal-sandal dan sepatu-sepatu kulit yang bisa dibuat sesuai pesanan dengan harga yang murah dan cepat. Tidak salah jika Lonely Planet atau orang-orang yang kita temui merekomendasikan Hoi An sebagai tempat belanja yang unik dan murah di Vietnam.
Ada cerita menarik pada saat kami di Hoi An. Pada suatu siang, pada saat kita kehausan kita berhenti untuk minum kelapa muda di salah satu restoran kecil di pinggir jalan, lalu ada seorang turis (yang akhirnya kita tau dia orang Australia) terheran-heran karena tidak menyangka kalau akan ketemu turis Indonesia di Vietnam (terutama di Hoi An), (dia pernah keliling Indonesia selama 3 bulan) karena menurutnya dia belum pernah ketemu orang Indonesia selama perjalanannya keliling Asia dan Eropa. Dia lebih terkejut lagi waktu kita bilang bahwa Hoi An adalah perhentian kita yang ke-4 di tour Vietnam & Kamboja kita, setelah Hanoi, Siem Reap, Phnom Penh, dan setelah Hoi An kita akan ke Ho Chi Minh City (Saigon). Dan menurut dia agak sedikit aneh karena, satu, dia belum pernah lihat orang Indonesia jalan-jalan (siwalan!!! banyak kok orang Indonesia yang jalan-jalan), kedua, apalagi jalan-jalannya tanpa group dan tour guide. Hmmm…kalo di pikir-pikir benar juga sih, tapi gak sedikit juga orang Indonesia yang nekat macam kita ini kok…heheheheh…
HO CHI MINH CITY (SAIGON)
Ho Chi Minh City adalah perhentian kita yang terakhir di Vietnam dan Kamboja tour kita, sebelum akhirnya kembali ke Beijing. Ho Chi Minh City, yang dulunya bernama Saigon, terkenal dengan perang Amerika-Vietnam. Walaupun Amerika akhirnya menyerah kalah dan menyesali perbuatan mereka karena perang tersebut memakan banyak korban yang tidak berdosa. Masih banyak sisa peninggalan perang Amerika-Vietnam terlihat di Ho Chi Minh City ini. Ada War Museum (Musium Perang) yang memperlihatkan banyak foto-foto dari masa perang tersebut, ada juga bekas pesawat tempur, tank-tank Amerika Serikat diperlihatkan. Tetapi diantara sisa peninggalan perang Amerika-Vietnam tersebut, tempat yang paling mengesankan adalah Cu Chi Tunnel (Terowongan Cu Chi).
Cu Chi Tunnel adalah salah satu dari tourist attraction Ho Chi Minh City. Terowongan ini terletak di perkampungan Cu Chi yang menghubungkan dengan kampung-kampung sekitarnya yang panjang terowonganya sekitar 200 Km yang dipergunakan untuk bersembunyi atau melarikan diri. Di dalam terowongan terdapat banyak bunker yang dipergunakan untuk tempat tinggal darurat, dapur umum darurat, rumah sakit darurat, ruang rapat darurat, sekolah darurat, dll. Selain itu juga banyak terdapat perangkap di daerah Terowongan Cu Chi yang dulunya digunakan untuk memerangkap tentara-tentara Amerika.
Di Terowongan Cu Chi juga terdapat Shooting Range (Lapangan Tembak) yang dulunya dipergunakan untuk latihan menembak tentara-tentara Vietnam. Saya juga menyempatkan untuk menembak disana. Walaupun itu bukan pengalaman pertama saya menembak (sebelumnya saya pernah latihan menembak di Chengde – kira-kira 3 jam dari Beijing – dengan tangan gemetar dan hasilnya melenceng…hehehe…), tapi hasilnya tidak beda jauh dengan yang pertama…hehehe…
Dibandingkan kota-kota lainnya di Vietnam (termasuk Hanoi sebagai ibukota negara) Ho Chi Minh City lebih modern. Tampak terlihat dari orang-orangnya dan kotanya sendiri. Banyak terlihat gedung-gedung megah, rumah-rumah mewah (bahkan ada kawasan rumah-rumah mewah seperti Menteng di Jakarta), butik-butik mewah, galeri-galeri lukisan, restoran-restoran dan bar-bar.
Setelah 3 hari di Ho Chi Minh City kami kembali ke Beijing. Kembali lagi dengan udara dingin yang menggigit, kembali lagi aktivitas semula, kembali lagi ke dunia nyata. Fhewww……
Itulah cerita perjalanan kami selama 2 minggu di Vietnam dan Kamboja dengan 5 perhentian. Perjalanan yang amat sangat menyenangkan dan mengesankan. Dalam hati ingin rasanya suatu saat kembali lagi. Tapi entah kapan, entah tahun depan, entah sepuluh tahun lagi, entahlah. Ada pepatah mengatakan: “Too many places to go, but too little we have”. Tapi dimana ada kemauan disitu ada jalan, bukan?! Tapi tenang saja banyak jalan menuju Roma (Loh?!) Apakah Roma jalan-jalan kita selanjutnya?? Tunggu saja! InsyaAllah…… (dj).











mabk, dimana kita bisa dapatkan informasi hotel di hanoi ? kebetulan saya rencana di bulan juli mo ke hanoi untuk pertama kalinya.
Dengan hormat,
Saya ingin bertanya utk perjalanan dari Indo ke Cambodia lalu ke Cina.
Bagaimana dengan cara yg murah? pesawat,hotelnya…..
Terima kasih utk infonya.